Sebulan sudah setelah benar-benar kembali ke tanah air. Ada perasaan senang dan juga sedih.
Adaptasi, mungkin itu kata yang tepat untuk semua hal yang kulakukan untuk saat ini. Kembali ke kota ini, kota yang telah membesarkanku, kota kelahiranku. Tapi berasa berbeda…
Tidak jauh seperti di Thailand, kembali kesini aku memilih untuk tinggal sendiri tidak bersama kedua orang tua. Berbagai hal yang membuatku untuk memilih tinggal terpisah seperti ini, selain karena Mess (tempat tinggal sekarang red.) lebih dekat aksesnya menuju ke kampus bukit dimana dalam seminggu 4 harinya aku bekerja disini, juga karena berada dipusat kota dan sebenernya untuk menghindari “pertanyaan” yang males sekali dijawab.
Sebulan setelah kepulangan, suasananya tidak seperti dulu. Beberapa teman yang dulu sangat dekat denganku sekarang terasa sangat jauh. Beberapa kali ajakan untuk kumpul tanpa ada tanggapan. Yah bisa dimaklumi, mungkin mereka sibuk sekali dengan urusan masing-masing. Tapi berasa sedih, bagaimana keakraban kami hanya sampai sebatas ini, jarak yang jauh ini telah benar-benar memisahkan rasa pertemanan dan persaudaraan. Merasa sendiri di kota sendiri
, padahal di negara orang selalu saja ada yang berada disampingku. Ini juga yang membuat adaptasi ini terasa sedikit sulit.
Kolega saat ini adalah orang-orang yang dulu sangat aku segani. Orang-orang yang dulu memberikanku berbagai macam ilmu. Sampai saat ini masih ada rasa segan kepada mereka. Sehingga masih seperti ada pembatas dengan mereka walau seharusnya aku setara seperti mereka namun diriku sendiri seperti masih memberikan batasan itu. Masih sangat sulit bagiku untuk benar-benar membaur dan masuk dalam komunitas yang usia orang-orang didalamnya jauh diatasku. Mungkin someday, aku bisa benar-benar menerima mereka “as a friend” not as a parent.
Beberapa teman seprofesi yang seangkatan saat ini masih berada diluar kota ini, yah salahku juga keluar seorang diri mendahului mereka. Sekarang disaat mereka sedang menjalani hal yang sama seperti diriku dulu aku sudah kembali ke kota ini.
Teman curhat; selama dua tahun ini teman curhat merupakan teman yang berada dekat denganku, share anything I do. Now, they all far from me, miss them
; my room mate, my best friend. now only hear they voice from far distance.
Saat ini aku seperti mencari komunitas baru, namun tak banyak juga yang bisa kuikuti. Salah satu pelarian adaptasi ini adalah pekerjaan. pekerjaanku sendiri sebenarnya tidak menuntut banyak. Aku diberi kebebasan untuk berkata “tidak mau”, menolak mata kuliah yang diajar. Namun, dari semua mata kuliah yang ditawarkan aku berkata “oke”. memang pastinya bebannya akan sangat berat, mengajar merupakan salah satu tugas mulia menurutku, tapi bebannya sangat berat karena seorang pengajar itu punya tanggung jawab langsung kepada Tuhan selain kepada sang anak didiknya. Tidak hanya membuat sang anak didik tahu tentang apa yang diajarkan tapi harus dapat membuat mereka mengerti dan mehami apa yang diajarkan sehingga sang anak didik dapat mengaplikasikan ilmu yang diberikan itu untuk tujuan yang baik dan benar.
Terasa berbeda…
kalau di Thailand, lunch or dinner pasti dengan teman entah siapapun itu, now alone or u’ll not eat at all.
kalau di thailand, selalu ada yang mengajak jalan or meminta untuk diajak jalan, now alone or u’ll not going anywhere.
kalau di Thailand, mo bergaya macam apapun, who care, now trying to wear some style then everyone will say u r freak.
kalau di Thailand, jalan kaki anywhere and everywhere in any soi, now alone walking di di gang-gang kecil then some eyes will looking at u.
kalau di thailand…, now…
kalau di thailand…, now…
Entah kenapa aku jadi membuat perbandingan terus menerus. Apakah karena aku yang terlalu sensitif menanggapi perbedaan ini?
Pengen adaptasi ini segera terlewati dan aku bisa menikmati… enjoy dengan semua hal yang ada disini seperti dulu lagi, sebelum dua tahun yang baru terlewati ini.










