Ini kisah perjalanan terakhir EsTehDua Gelas sebelum keadaan benar-benar memisahkan kami berempat. Sebelumnya satu orang sudah lebih dulu berpulang ke tanah air, tinggallah saya bersama dengan dua orang parnert in crime ini dan sekarang kami semua sudah berpulang kembali ke tanah air, berada di empat tempat yang berbeda.
Setelah diributin berulang kali oleh Om (kita samarkan saja nama-namanya nanti orangnya marah
) yang merengek minta jalan-jalan karena stress oleh perkuliahan dan research. Akhirnya kembali di floor kan di “sebelum lupa”, seperti biasa semua pada nyengir begitu aku bilang mari kita PERSAMI, termasuk Ko yang sudah berada di Indonesia. Sepertinya Ko sedikit iri dan kepengen ikut but sayang beban pekerjaan begitu pulang ke Indonesia membuatnya “terkungkung” (owh I’ll be like that also maybe…).
Sebelumnya sedikit males menanggapi perjalanan kali ini, karena keuanganku yang begitu sangat-sangat menipis dan keadaan kakiku yang sebenarnya masih kurang memungkinkan untuk melakukan perjalanan karena kuku jempol kaki yang sempat dicabut agustus lalu masih dalam proses tumbuh, tapi bujuk rayu PERSAMI dari mereka meluluhkan aku. Setelah nego panjang yang tadinya menginginkan perjalanan menuju ke Lao PDR yang aku tanggapi secara dingin karena kekurangan biaya akhirnya pilihan perjalanan diserahkan kepadaku. Setelah melihat dan menimbang keadaan serta keuangan akhirnya PERSAMI kali ini saya pilih menuju ke Mae Khlong (gara-gara ngeliat youtube ini), Amphawa dan Damnern Saduak. Tiga tempat yang berdekatan yang bisa sekaligus dapat terjelajahi.
Setelah runding sana-sini bersama dua laki-laki geje ini dan juga untuk membuat agar orang yang tidak diinginkan masuk ke perjalanan tetapi kami membutuhkan pemain pengganti untuk menggantikan Ko, maka kami merekrut seseorang. Sebenarnya bukan merekrut sih, ini adalah istilah kami bertiga untuk mencari teman perjalanan yang sesuai hati. Dan akhirnya setelah panjang lebar diskusi di “sebelum lupa” maka terpilihlah Bunga (sebut saja begitu seperti kata Om). Kenapa kami pilih dia? karena sepertinya nih anak ga akan mengeluh dibawa sengsara
dan karena dia suka travelling juga walau tidak diketahui secara pasti bagaimana recordnya.
Itinerary perjalanan, seperti biasa saya buat untuk menghindari budget yang terlalu berlebih, maklum dua orang laki-laki ini suka lupa diri kalo diperjalanan, sedikit berbeda dengan Ko yang biasa ikut membantu meminimalisir biaya perjalanan. Perjalanan akan dimulai dari Mae Khlong; stasiun tua dan pasar extreme dan berakhir di Amphawa dan Damnern Saduak; floating market.
Sehari sebelum perjalanan dimulai, tiba-tiba President Campus mengumumkan bahwa daerah sekitar kampus sudah mengalami banjir dan areal kampus sudah dipasang flood fighting untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Melihat dan mendengar pengumuman ini tidak membuat yang lain membatalkan perjalanan, so journey begin again with new additional player.
Jam 8 pagi kumpul bersama di halte Campus, dari Campus kami berempat naik bus #29 menuju Anou Sawaree aka. Victory Monument seharga 20 baht. Didalam bus seperti biasa empat orang ini bikin ribut dan seperti biasa dimarahin dengan kondektur, tapi kali ini si khun kondektur bener-bener marah terutama ke si personil baru yang entah kenapa dia yang yang dimarahi padahal yang paling gede ngomong itu adalah kami bertiga. Gara-gara dimarahin dan khun sopir yang jalannya endut-endutan akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di stasiun sky train terdekat saja daripada menuju ke Victory Monument. Dari Saphan Kwai Sta. kami melanjutkan naik Sky Train menuju Wongwiyan Yai Sta. dan dari sana berjalan kaki menuju ke railway stasiun wongwiyan.
Sedikit sulit menemukan stasiun KA ini, Wongwiyan Sta. berada di balik pemukiman penduduk dan akses masuknya merupakan gang kecil, hampir kesulitan mencari dimana letak stasiun ini, ditambah dengan bahasa Thai saya dan Di yang pas-pas an dan kedua orang lainnya tidak bisa dan tidak mau berbahasa Thai. Akhirnya setelah tanya sana sini “Thee nai satani root fai Wongwiyan Yai na kha?” berulang kali akhirnya kami menemukan stasiun itu.
Tiket train kelas ekonomi (yang ada cuma itu) dari Wongwiyan Yai menuju ke Samot Sakhon ternyata hanya 10 baht saja walaupun perjalanan yang dilakukan sekitar 1 jam. Sesampai di Samut Sakhon, keluar dari stasiun langsung berada di daerah pasar yang becek dan banyak seafood, eehmm yummy. Sebelum kami melanjutkan perjalanan, kami stay untuk lunch di kota ini. Makan siang yang cukup mahal tapi sumpah enak banget menurut kami bukan saya saja loh… Lunch kali ini semuanya enak-enak banget tapi yang paling top markotop itu adalah kepitingnya, sumpah yummy banget dan ada rasa jahe di bumbunya bikin tuh kepiting dikasih nilai 5 jempol.


Setelah makan siang yang mahal banget itu :’(, kami meneruskan perjalanan menyebrangi sungai menuju ke Ban Laem stasiun. Seperti biasa naik bus air di Thai hanya sekitar 2 baht. Setelah sampai di seberang, kembali bingung jalan mana menuju ke stasiun. Setelah lirik sana lirik sini akhirnya melihat ada seorang turis yang menyeret kopernya menuju ke sebuah jalan, kami sepakat untuk mengikutinya dan ternyata benar turis tersebut menuju ke BanLaem sta. Ban Laem sta. hampir sama seperti wongwiyan yai, merupakan stasiun kecil, tiket yang harus dibayar menuju ke Mae Khlong juga sama sebesar 10 baht (belum berhasil menipu petugas karena ternyata Thai people free). Cukup lama sih berada di stasiun ini karena waktu keberangkatan yang di delay sekitar 2 jam. Cukup menyebalkan juga berada di kereta api ekonomi yang tidak berjalan selama 2 jam.

Akhirnya setelah 2 jam menunggu, train berangkat menuju ke Mae Khlong sta. Perjalanan ini hanya memakan waktu satu jam. Sesampai di mae Khlong kami langsung berlari menuju ke pangkal stasiun untuk membuat video tentang keadaan pasar “extreme” itu. Benar-benar ajaib memang sebelum kereta akan melintas para penghuni pasar membuka tenda-tenda yang menutupi jalan train dan begitu train melintas dalam sekejab tenda-tenda itu kembali lagi seperti semula.


Setelah puas taking pictures disana, kami meneruskan perjalanan menuju ke Amphawa untuk mencari penginapan. Keluar dari pasar, kami berempat naik songteaw menuju ke Amphawa market. Ongkos songteaw menuju Amphawa sebesar 12 baht. Setelah sampai di Amphawa kami langsung mencari penginapan yang termurah. Setelah masuk dan keluar berbagai macam penginapan akhirnya kami mendapat penginapan murah, yaitu stay di salah satu rumah penduduk yang kamarnya bersedia untuk disewa. Per kamar sang empunya rumah memberi harga 500 baht dan satu kamar dapat dihuni oleh 2 orang. Sebenarnya harga tersebut cukup mahal untuk kategori penginapan di Thailand, tapi karena Amphawa memang daerah turis dan rumah penginapan ini benar-benar berada di pusatnya Amphawa, maka masih dapat dikategorikan murahlah ditambah dengan rengekan 2 orang laki-laki ini yang menyetujui penginapan ini karena benar-benar berada pada pinggir sungai. Ternyata rengekan ini karena mereka berdua ingin berenang disungai bersama anak-anak kecil yang bolak-balik terjun dari jembatan. So, sore itu adalah ajang mereka berdua unjuk kebolehan dengan anak-anak kecil disana bahwa mereka juga bisa terjun dari jembatan menuju ke sungai.

Malam di Amphawa kami lewatkan dengan mencari penyewaan boat untuk melihat fireflies yang katanya sangat terkenal disana. Setelah mengelilingi pinggir sungai akhirnya kami mendapatkan harga boat termurah yaitu 60 baht per orang untuk wisata sungai melihat fireflies. Wisata yang membosankan menurut kami berempat karena seperti merasa tertipu melihat fireflies yang hanya stay di pohon-pohon tidak beterbangan mengelilingi kami, so seperti melihat lampu kelap-kelip yang digantung di pohon (ataukah itu memang lampu kelap-kelip yang di gantung dipohon yah???). Ditambah perjalanan keliling yang cukup lama plus kebelet pipis
. Setelah ngomel sana-sini karena ketidakpuasan tour ini, akhirnya kapal berlabuh. Begitu kapal berlabuh yang kami cari adalah toilet. Ternyata sulit menemukan toilet disini dan setelah meminta kepada pemilik warung akhirnya sang pemilik warung mengijinkan untuk memakai toiletnya. Dia memanggil seseorang untuk mengantarkan kami. Satu persatu kami memakai toilet tersebut diantar oleh mbak-mas yang sangat cantik itu. Dan ternyata oh ternyata mbak-mas ini menyukai Om, karena tutur katanya beda banget ke Om dan tatapannya itu looohh…hahahaaa…. Akhirnya Om punya seorang fans, congratulation for Om 55555+++.

Setelah mengarungi sungai kami menyusuri pesisir sungai Amphawa ini dan bunga akhirnya membeli kembang api. Malam itu di depan penginapan kami membuat kegaduhan bermain kembang api. Setelah kembang api habis kami pun segera menuju ke kamar masing-masing. Pagi itu ooppss agak siang sedikit
kami berdua dibangunkan oleh gedoran pintu Om yang ribut menyuruh mandi. Begitu keluar kamar, dengan sedikit bangga serta ejekan dia bilang kalau dia dan Di sudah mandi dan siap berangkat. Setelah berpamitan dengan khun yang punya rumah kami meninggalkan Amphawa dan menuju ke jalan raya mencari van menuju ke damnern saduak. Van menuju ke damnern saduak ini harganya 20 baht dan ternyata van tidak langsung menuju ke damnern saduak tapi menurunkan kami di sebuah tourist tour. Damn***, we don’t need tour guide for our journey.
Disana guide melakukan penawaran yang akhirnya kami tolak karena setahu saya (karena yang baca petunjuk waktu itu cuma saya) harga menuju ke damnern saduak tidak semahal itu, lagipula kalo ikut mereka ada batasan waktu. Akhirnya kami sepakat untuk berjalan kaki menuju ke damnern saduak. Tetap nekat walau para tour guide bilang cukup jauh menuju kesana. Sangat berharap disepanjang perjalanan ada truk or mobil sejenis yang bisa ditumpangi, tapi malangnya tidak satupun yang mau berhenti. Ternyata benar kata tour guide tersebut, cukup jauh jalan kaki menuju ke damnern saduak, mungkin sekitar 1 km lebih perjalanan jalan kaki yang kami lakukan. Kalo kami bertiga mungkin sudah cukup biasa dengan medan seperti ini, yang agak kesulitan sepertinya adalah bunga untuk dapat berjalan beriringan. Saya sudah cukup lama mengenal kedua laki-laki ini dan bisa mengikuti pergerakan kaki mereka ditambah kami sudah berhasil menyelaraskan kecepatan berjalan but tidak halnya dengan bunga. So, untuk kali ini bunga berusaha keras untuk berjalan mengiringi kami. Lucu juga melihatnya berusaha setengah berlari mengikuti cara kami berjalan 555++. So, sorry yah dek…but this will be unforgettable moment for you
.


Setelah perjalanan itu, akhirnya kami sampai di damnern saduak floating market (finally). Dan mau masuk melihat tempat makan halal, so sepakat ntar makan disana. Masuk ke dalam Damnern Saduak floating market. Floating market ini lebih kecil dari Amphawa (mirip kali) namun lebih ramai. Kami menyewa kapal untuk berkeliling market, setelah nego didapat harga 100 baht/orang. Setelah puas berkeliling kami pun keluar dari damnern saduak ini dan makan siang (sore lebih tepatnya) di tempat khun halal.
Sempat bertanya dengan khun halal tersebut yang kebetulan mengerti bahasa melayu, ternyata ada van langsung menuju ke bangkok. So, akhirnya si khun yang mencarikan van untuk kami. Khob pun mak kha na khun, arroy khin khaa.
Sekian perjalanan ini. Mungkin suatu hari nanti kita bisa kembali melakukan perjalanan bersama guys.
Catatan Perjalanan,
8-9 Oktober 2011
PS:
Miss you all my big bro.
Bunga: perjalananmu masih panjang disana, enjoy ur journey na kha