RSS

When AIT Become a Lake (2)

22 Oktober 2011

Atas permintaan permintaan nyonya atase pendidikan Thailand, ibu Ani untuk stay di rumahnya akhirnya hari ini pindah dari apartemen teman Thai. Dia sempat bertanya-tanya kenapa saya move dari sana dan merasa sedikit kecewa. Sebenarnya alasan pindah pengungsian ke rumah atase bukan hanya karena permintaan ibu Atase tetapi karena sebenarnya saya tahu teman saya ingin pulang ke home town-nya karena perusahaan tempatnya bekerja untuk saat ini diliburkan, karena saya ada di apartemennya dia tidak tega meninggalkan saya sendiri dan memilih untuk stay di Bangkok. Selain itu beberapa teman Indonesia yang tersisa menyarankan untuk stay bersama sehingga memudahkan koordinasi pemulangan walaupun saya tahu yang berasal dari sumatera yang tertinggal saat ini hanya saya seorang.

Acara TV dan pemberitaan lewat facebook semua gencar memberitahukan tentang keadaan Rangsit daerah dimana campus saya berada. Saat ini campus sudah benar-benar tidak dapat diakses oleh kendaraan kecuali oleh perahu. Saya memutuskan untuk segera mencari tiket pulang karena tidak mungkin hidup berpindah-pindah dan menumpang di negeri orang ini walaupun banyak teman-teman Thai yang menawarkan tumpangan sampai campus dibuka kembali.

Korea House

Korea House

L Dorm

L Dorm

Chalerm Prakiet Bld.

Chalerm Prakiet Bld.


 

23 Oktober 2011

Ketinggian air masih stabil dan belum menunjukkan tanda bakal ada penyurutan. Prof. Worsak berhasil mengambil gambar-gambar keadaan AIT saat ini dan dari facebook group persatuan students muslim Thailand saya juga mendapatkan foto-foto keadaan terkini.

Miris melihat keadaan 3 campus tersebut menjadi seperti danau dengan atap-atap bangunan yang muncul dipermukaan.

Thammassat Univ Road

Thammassat Univ Road

Thammasat Hospital

Thammasat Hospital

as volunteer I always passing this road

as volunteer I always passing this road

Thaladnat Area

Thaladnat Area

Dragon Gate on TU Stadium

Dragon Gate on TU Stadium

areal pengungsian sementara di TU setelah flooded

areal pengungsian sementara di TU setelah flooded

Miris melihat tempat nongkrong dan minum kopi (red: UFM) setiap sore menjadi lautan.

AIT Gate 1

AIT Gate 1

ST 8

ST 8

ST Dorm

ST Dorm

WEM Bld

WEM Bld

Staff Dorm

Staff Dorm

Engineering Building

Engineering Building

SET Building

SET Building

SERD Building

SERD Building

AIT Book Store

AIT Book Store

Sub Station 1

Sub Station 1

Miris melihat tempat yang selalu kulalui dengan sepeda ini tertutup oleh air.

 

23 Oktober 2011

Akhirnya setelah menimbang dan menimbang saya memutuskan untuk pulang melalui jalan darat sendiri. Saat ini hanya saya sendiri yang berasal dari sumatera dan teman-teman lainnya melewati rute penerbangan yang jika saya ikut juga akan membuat biaya perjalanan dan waktu tempuh yang lebih lama karena itulah akhirnya saya memutuskan untuk melalui jalan darat menuju ke Malaysia. Tiket penerbangan termurah yang bisa didapat untuk rute penerbangan Kuala Lumpur – Palembang tanggal 27 Oktober, semua tiket untuk tanggal setelah itu sangat mahal dan full booked karena bulan november bertepatan dengan ajang perhelatan olahraga internasional SEA GAMES.

25 Oktober 2011

Dengan barang yang tersisa, karena saya hanya sempat membawa lappie, kamera dan 3 stel pakaian di ransel backpack ini, sedang barang lain tidak bisa diambil kembali sampai waktu yang tidak ditentukan, tidak ada lagi akses menuju ke campus kecuali menggunakan truck Army dan menyewa perahu. Dibekali oleh mie instant dan bubur instant box oleh ibu atase, siang itu saya berangkat menuju ke TallingChan Saitai, terminal bus yang menuju ke Hatyai dan dari sana saya akan pindah ke bus lain menuju ke Kuala Lumpur.

on the way to TallingChan Saitai

on the way to TallingChan Saitai


26 Oktober 2011

sebelum siang saya sudah sampai di Hatyai, mencari akses internet untuk mengetahui berita terkini, belum ada perkembangan berarti dari kampus hanya foto-foto dari Prof. Worsak yang update untuk mengetahui keadaan AIT terkini.

Administration Bld.

Administration Bld.

Administration Bld.

Administration Bld

AIT International School

AIT International School

AIT Gate #1

AIT Gate #1

Dormitory

Dormitory

Dorm V

Dorm V

Dorm W

Dorm W

Dorm X

Dorm X

Dorm Y

Dorm Y

Energy Bld

Energy Bld

AIT Extension

AIT Extension


27 Oktober 2011

Pesawat AA KL-Plg yang berangkat pukul satu siang dari Kuala Lumpur take off menuju ke Palembang. Akhirnya kembali lagi ke kota ini walau belum menyandang gelar, kembali sebagai seorang pengungsi.

Continued to When AIT Become a Lake (3)…

 

Tags: , , , , , ,

When AIT Become a Lake (1)

Sebenernya postingan ini sudah lama ingin kupublished namun selalu saja ada hal-hal yang kurang yang membuatku mengurungkan niat untuk mempublished nih posting. But this is it, kronologis dari terendamnya kampus kesayanganku.

6 Oktober 2011

President campus memberikan email waspada perdana bahwa ada kemungkinan bahwa kampus akan mengalami banjir dan mengharapkan para penghuni kampus untuk waspada. Guarding dan flood fighting telah disiapkan oleh campus untuk mewaspadai hal tersebut.

8 Oktober 2011

President campus memberitahukan dalam email AIT bahwa areal periphery campus telah dipasang flood fighting. Sempat rada bingung karena merasa gay akin bahwa rangsit akan banjir dan kampus juga akan dialiri oleh air. Saat itu kami memilih untuk PERSAMI walau cuaca tidak menentu.

13 October 2011

Daerah Ayutayya telah terendam banjir dan Thammasat University aka kampus sebelah dijadikan tempat penampungan pengungsi sementara. Berhasil menghubungi Nurroh (mahasiswa muslim Thai) dan bersedia untuk menjadi relawan selama ada pengungsian di Thammasat University dan bergabung dengan mahasiswa Muslim Thai. Saya berusaha menghubungi beberapa mahasiswa Indonesia untuk bergabung, namun sepertinya belum mendapat respon positif. Satu orang mahasiswa Indonesia mau untuk ikut menjadi relawan, so saya dan dia berangkat siang itu menuju ke camp pengungsian di Thammassat Sport Centre.

Areal pengungsian sangat jauh dari bayangan areal pengungsian di Indonesia. Semua pengungsi benar-benar teregistrasi, walau belum melihat secara keseluruhan karena kami langsung ditaruh diareal pembagian makanan. Makanan yang adapun saat ini sangat berlimpah, pengungsi dapat memilih makanan yang lebih dari layak disertai dengan buah-buahan dan minuman  free.

makanan hasil sumbangan

makanan hasil sumbangan

dapur pengungsian

dapur pengungsian


14 Oktober 2011

Masih di seputar areal pengungsian, kali ini saya berangkat pagi dan ditemani dengan dua teman Indonesia yang akhirnya mau ikutan; Di dan Ma. Kali ini didapur pengungsian saya ikut bertugas membantu masak karena tenaga yang dibutuhkan saat itu adalah bagian dapur sebelum makanan dibagikan. Keadaan sekitar sudah mulai mencekam dengan berita-berita beberapa dam (khlong) sudah collapse. Areal thammasat, AIT dan NSTDA yang berada dalam satu kompleks sendiri sudah diantisipasi dengan pembangunan dam-dam di periphery ketiga campus ini. Namun sampai saat ini keadaan masih bias terkendali.

flood fighting AIT shop storage

flood fighting AIT shop storage

dapur pengungsian

dapur pengungsian


 

15 Oktober 2011

Ditengah suasana sekitar yang mencekam karena berita banjir, Welcome Show AIT tetap diadakan dan suasana kemeriahan tetap terlihat dan lagi-lagi saya masih diminta untuk menjadi salah satu fotografer picisan untuk mengambil moment ini.

17 Oktober 2011

Dikes di depan pahoyothin rd

Dikes di depan pahoyothin rd

infront of Thammasat entrance

infront of Thammasat entrance

infront of Thammasat entrance

infront of Thammasat entrance

infront of AIT entrance

infront of AIT entrance

Post Office entrance

Post Office entrance

SCB AIT branch

SCB AIT branch

AIT dikes entrance

AIT dikes entrance


 

18 Oktober 2011

Sampai hari ini satu persatu mahasiswa dari seluruh Negara sudah berpulang ke tanah air masing-masing termasuk beberapa mahasiswa Indonesia, karena mereka menilai keadaan kampus tidak lagi kondusif untuk kegiatan perkuliahan yang selalu seperti merasa diteror dengan banjir yang akan segera datang. Kampus saat ini masih terblang aman walau keadaan sekitar sangat mencekam. Sore hari diberitahukan bahwa areal perindustrian dan ThaladThai (market tradisional terbesar di Thailand) yang hanya berjarak 1 km dari kampus telah collapse dan terendam banjir.

19 oktober 2011

Daerah rangsit sudah hamper terisolasi, bus yang melalui kampus hanya tinggal bus 510 menuju ke victory monument sedangkan semua van dan bus 29 dan 39 yang biasanya beroperasi di areal 3 kampus (Thammasat university, AIT dan NSTDA) sudah tidak beroperasi lagi. Hamper semua mahasiswa thai telah pulang ke rumah masing-masing dan mahasiswa-mahasiswa dari Negara lain pun satu persatu setiap harinya keluar dari kampus. Suasana perkuliahan tidak kondusif dan beberapa field of study telah menghentikan perkuliahannya karena lecturer tidak dapat mengakses AIT. Bus pengungsian telah disiapkan oleh campus dan berada pada bagian depan campus.

sand for flood fighting

sand for flood fighting

Saya sendiri memutuskan untuk meninggalkan AIT sore ini setelah melakukan tugas sebagai volunteer di Thammasat. Setelah melakukan pemikiran panjang karena takut tidak ada akses menuju keluar kampus dan kekhawatiran teman-teman Thai saya, mereka menyarankan saya untuk keluar kampus dan mengungsi di salah satu apartemen mereka. Akhirnya dengan berat hati saya meninggalkan kampus, hanya tertinggal beberapa mahasiswa Indonesia yang ada di kampus saat ini, saya tidak dapat mengajak mereka karena keterbatasan tempat tinggal.

Sore itu saya meninggalkan kampus tercinta dengan hanya membawa satu buah ransel menuju ke daerah ramkamhaeng tempat teman saya tinggal. Selama diperjalanan miris sekali, kiri dan kanan jalan sudah terendam banjir areal yang menuju ke kampus sudah tidak dapat diakses lagi oleh kendaraan dan ruas jalan yang dapat dilewati hanya highway.

20 Oktober 2011

Berada di daerah ramkamhaeng yang bebas banjir tidak membuat saya sedikitpun merasa lega. Berita di TV walaupun dalam bahasa Thai namun dapat sedikit dimengerti dan kesemuanya memberitakan daerah Rangsit, daerah dimana saya tinggal 2 tahun belakangan ini. Dari berita tersebut diberitahukan bahwa Future park rangsit; mall terbesar dirangsit collapse dan ditutup sampai waktu yang tidak ditentukan, begitupun zeer; mall elektronik terbesar di Rangsit juga begitu. Bangkok university yang berada di areal rangsit sudah menyatakan ditutup untuk waktu yang tidak ditentukan.

Thammasat hospital yang berada di areal thammasat university Rangsit campus sudah memindahkan semua pasiennya menuju ke hospital lain serta para pengungsi hari ini dipindahkan ke areal pengungsian baru yaitu berada di rajamanggala sport stadium, dimana stadium itu berada di daerah ramkamhaeng, daerah tempatku stay saat ini.

Bangkok University Rangsit

Bangkok University Rangsit

Highway Rangsit

Highway Rangsit

Major Cineplex Rangsit

Major Cineplex Rangsit

Bagaimana dengan AIT?

Bus yang telah dipersiapkan sudah benar-benar stand by di daerah 108 shop dan siap mengangkut mahasiswa dan staf kapan saja. Tidak ada lagi perkuliahan saat ini, President campus memberitahukan bahwa untuk sementara perkuliahan dihentikan sampai awal November 2011.

21 Oktober 2011

Pukul satu malam, President campus mengumumkan bahwa tidak dapat lagi membendung periphery dan salah dua dikes di bagian depan collapse, air telah mengaliri bagian depan menuju ke areal AIT golf.

Pukul lima pagi, air telah membanjiri AIT golf dan sebagian areal depan AIT setinggi 30 cm. para students yang masih berada di AIT diharapkan menyiapkan barang-barang seadanya untuk selama pengungsian.

Pukul 10 pagi, air telah memasuki areal dormitory setinggi mata kaki dan terus naik. Pukul satu diareal dormitory air sudah mencapai ketinggian 50 cm. Students diharapkan segera menuju ke bus pengungsian. Students diserahkan ke embassy negara masing-masing termasuk students Indonesia yang diserahkan ke embassy masing-masing.

menjelang siang di areal dormitory

menjelang siang di areal dormitory

beside of Korea house bld.

beside of Korea house bld.

Tidak ada kesiapan dari embassy Indonesia membuat para students yang tersisa akhirnya menginap di rumah students dari univ lain dan di kediaman atase pendidikan (sedikit kecewa dengan keadaan ini).

Bagaimana dengan saya?

Saya sendiri berada pada kawasan aman dan tetap mengontrol dari jauh kegiatan teman-teman Indonesia via telpon.

22 Oktober 2011

22 October 2011; 01.00 Bangkok Time

22 October 2011; 01.00 Bangkok Time

Saya menemui teman-teman di salah satu stasiun sky train dan berangkat menuju ke areal pengungsian yang disediakan kampus.

Untuk apa? Bukankah sudah memiliki tempat penampuan sendiri?

Kami hanya ingin mengetahui bagaimana keadaan di daerah pengungsian yang disediakan oleh kampus apakah layak, karena kami sendiri merasa segan berada di kediaman atase pada saat itu. Areal pengungsian kampus berada di daerah kampus lain yaitu KMUTT. Cukup nyaman kata beberapa teman dari Negara lain namun harus sharing room with others.

Hari ini juga, president campus memberikan amanat untuk segera pulang ke Negara masing-masing dan perkuliahan dihentikan sampai 30 november 2011.

Continued to When AIT Become a Lake (2)…

 

Tags: , , , , , , ,

My Survey on March

Ternyata lucu juga melihat tingkah mahasiswa-mahasiswa yang diminta untuk membantu survey kali ini, mahasiswa semester 2 angkatan 2011, mahasiswa yang baru pertama kali mengikuti sebuah kegiatan survey. Banyak cerita dari pengalaman mereka survey selama dua hari ini. Ada yang diikutin oleh seseorang (ini yang membuat saya sempat khawatir karena bagaimanapun saya yang bertanggung jawab terhadap mereka), ada yang sempat dikejar anjing, ada yang dimarahin ibu-ibu, ada yang dikira sales produk, ada yang dapat ceramah dari bapak-bapak dan masih banyak lagi cerita-cerita lainnya yang mereka ceritakan ketika survey berakhir.

Terima kasih telah membantu saya kali ini adik-adikku, semoga pengalaman ini bisa menjadi pengalaman yang bisa kalian kenang dan ceritakan kepada orang lain kelak.

…and see you on next survey… with me ;)

Catatan survey,
22-23 Maret 2012
 

 
3 Comments

Posted by on March 24, 2012 in My diary, Once Upon a Time in My Work

 

Tags: , ,

Perjalanan Terakhir EsTehDuaGelas

Ini kisah perjalanan terakhir EsTehDua Gelas sebelum keadaan benar-benar memisahkan kami berempat. Sebelumnya satu orang sudah lebih dulu berpulang ke tanah air, tinggallah saya bersama dengan dua orang parnert in crime ini dan sekarang kami semua sudah berpulang kembali ke tanah air, berada di empat tempat yang berbeda.

Setelah diributin berulang kali oleh Om (kita samarkan saja nama-namanya nanti orangnya marah :D ) yang merengek minta jalan-jalan karena stress oleh perkuliahan dan research. Akhirnya kembali di floor kan di “sebelum lupa”, seperti biasa semua pada nyengir begitu aku bilang mari kita PERSAMI, termasuk Ko yang sudah berada di Indonesia. Sepertinya Ko sedikit iri dan kepengen ikut but sayang beban pekerjaan begitu pulang ke Indonesia membuatnya “terkungkung” (owh I’ll be like that also maybe…).

Sebelumnya sedikit males menanggapi perjalanan kali ini, karena keuanganku yang begitu sangat-sangat menipis dan keadaan kakiku yang sebenarnya masih kurang memungkinkan untuk melakukan perjalanan karena kuku jempol kaki yang sempat dicabut agustus lalu masih dalam proses tumbuh, tapi bujuk rayu PERSAMI dari mereka meluluhkan aku. Setelah nego panjang yang tadinya menginginkan perjalanan menuju ke Lao PDR yang aku tanggapi secara dingin karena kekurangan biaya akhirnya pilihan perjalanan diserahkan kepadaku. Setelah melihat dan menimbang keadaan serta keuangan akhirnya PERSAMI kali ini saya pilih menuju ke Mae Khlong (gara-gara ngeliat youtube ini), Amphawa dan Damnern Saduak. Tiga tempat yang berdekatan yang bisa sekaligus dapat terjelajahi.

Setelah runding sana-sini bersama dua laki-laki geje ini dan juga untuk membuat agar orang yang tidak diinginkan masuk ke perjalanan tetapi kami membutuhkan pemain pengganti untuk menggantikan Ko, maka kami merekrut seseorang. Sebenarnya bukan merekrut sih, ini adalah istilah kami bertiga untuk mencari teman perjalanan yang sesuai hati. Dan akhirnya setelah panjang lebar diskusi di “sebelum lupa” maka terpilihlah Bunga (sebut saja begitu seperti kata Om). Kenapa kami pilih dia? karena sepertinya nih anak ga akan mengeluh dibawa sengsara :D dan karena dia suka travelling juga walau tidak diketahui secara pasti bagaimana recordnya.

Itinerary perjalanan, seperti biasa saya buat untuk menghindari budget yang terlalu berlebih, maklum dua orang laki-laki ini suka lupa diri kalo diperjalanan, sedikit berbeda dengan Ko yang biasa ikut membantu meminimalisir biaya perjalanan. Perjalanan akan dimulai dari Mae Khlong; stasiun tua dan pasar extreme dan berakhir di Amphawa dan Damnern Saduak; floating market.

Sehari sebelum perjalanan dimulai, tiba-tiba President Campus mengumumkan bahwa daerah sekitar kampus sudah mengalami banjir dan areal kampus sudah dipasang flood fighting untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Melihat dan mendengar pengumuman ini tidak membuat yang lain membatalkan perjalanan, so journey begin again with new additional player.

Jam 8 pagi kumpul bersama di halte Campus, dari Campus kami berempat naik bus #29 menuju Anou Sawaree  aka. Victory Monument seharga 20 baht. Didalam bus seperti biasa empat orang ini bikin ribut dan seperti biasa dimarahin dengan kondektur, tapi kali ini si khun kondektur bener-bener marah terutama ke si personil baru yang entah kenapa dia yang yang dimarahi padahal yang paling gede ngomong itu adalah kami bertiga. Gara-gara dimarahin dan khun sopir yang jalannya endut-endutan akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di stasiun sky train terdekat saja daripada menuju ke Victory Monument. Dari Saphan Kwai Sta. kami melanjutkan naik Sky Train menuju Wongwiyan Yai Sta. dan dari sana berjalan kaki menuju ke railway stasiun wongwiyan.

Sedikit sulit menemukan stasiun KA ini, Wongwiyan Sta. berada di balik pemukiman penduduk dan akses masuknya merupakan gang kecil, hampir kesulitan mencari dimana letak stasiun ini, ditambah dengan bahasa Thai saya dan Di yang pas-pas an dan kedua orang lainnya tidak bisa dan tidak mau berbahasa Thai. Akhirnya setelah tanya sana sini “Thee nai satani root fai Wongwiyan Yai na kha?” berulang kali akhirnya kami menemukan stasiun itu.

Tiket train kelas ekonomi (yang ada cuma itu) dari Wongwiyan Yai menuju ke Samot Sakhon ternyata hanya 10 baht saja walaupun perjalanan yang dilakukan sekitar 1 jam. Sesampai di Samut Sakhon, keluar dari stasiun langsung berada di daerah pasar yang becek dan banyak seafood, eehmm yummy. Sebelum kami melanjutkan perjalanan, kami stay untuk lunch di kota ini. Makan siang yang cukup mahal tapi sumpah enak banget menurut kami bukan saya saja loh… Lunch kali ini semuanya enak-enak banget tapi yang paling top markotop itu adalah kepitingnya, sumpah yummy banget dan ada rasa jahe di bumbunya bikin tuh kepiting dikasih nilai 5 jempol.

Setelah makan siang yang mahal banget itu :’(, kami meneruskan perjalanan menyebrangi sungai menuju ke Ban Laem stasiun. Seperti biasa naik bus air di Thai hanya sekitar 2 baht. Setelah sampai di seberang, kembali bingung jalan mana menuju ke stasiun. Setelah lirik sana lirik sini akhirnya melihat ada seorang turis yang menyeret kopernya menuju ke sebuah jalan, kami sepakat untuk mengikutinya dan ternyata benar turis tersebut menuju ke BanLaem sta. Ban Laem sta. hampir sama seperti wongwiyan yai, merupakan stasiun kecil, tiket yang harus dibayar menuju ke Mae Khlong juga sama sebesar 10 baht (belum berhasil menipu petugas karena ternyata Thai people free). Cukup lama sih berada di stasiun ini karena waktu keberangkatan yang di delay sekitar 2 jam. Cukup menyebalkan juga berada di kereta api ekonomi yang tidak berjalan selama 2 jam.

Akhirnya setelah 2 jam menunggu, train berangkat menuju ke Mae Khlong sta. Perjalanan ini hanya memakan waktu satu jam. Sesampai di mae Khlong kami langsung berlari menuju ke pangkal stasiun untuk membuat video tentang keadaan pasar “extreme” itu. Benar-benar ajaib memang sebelum kereta akan melintas para penghuni pasar membuka tenda-tenda yang menutupi jalan train dan begitu train melintas dalam sekejab tenda-tenda itu kembali lagi seperti semula.

Setelah puas taking pictures disana, kami meneruskan perjalanan menuju ke Amphawa untuk mencari penginapan. Keluar dari pasar, kami berempat naik songteaw menuju ke Amphawa market. Ongkos songteaw menuju Amphawa sebesar 12 baht. Setelah sampai di Amphawa kami langsung mencari penginapan yang termurah. Setelah masuk dan keluar berbagai macam penginapan akhirnya kami mendapat penginapan murah, yaitu stay di salah satu rumah penduduk yang kamarnya bersedia untuk disewa. Per kamar sang empunya rumah memberi harga 500 baht dan satu kamar dapat dihuni oleh 2 orang. Sebenarnya harga tersebut cukup mahal untuk kategori penginapan di Thailand, tapi karena Amphawa memang daerah turis dan rumah penginapan ini benar-benar berada di pusatnya Amphawa, maka masih dapat dikategorikan murahlah ditambah dengan rengekan 2 orang laki-laki ini yang menyetujui penginapan ini karena benar-benar berada pada pinggir sungai. Ternyata rengekan ini karena mereka berdua ingin berenang disungai bersama anak-anak kecil yang bolak-balik terjun dari jembatan. So, sore itu adalah ajang mereka berdua unjuk kebolehan dengan anak-anak kecil disana bahwa mereka juga bisa terjun dari jembatan menuju ke sungai.

Malam di Amphawa kami lewatkan dengan mencari penyewaan boat untuk melihat fireflies yang katanya sangat terkenal disana. Setelah mengelilingi pinggir sungai akhirnya kami mendapatkan harga boat termurah yaitu 60 baht per orang untuk wisata sungai melihat fireflies. Wisata yang membosankan menurut kami berempat karena seperti merasa tertipu melihat fireflies yang hanya stay di pohon-pohon tidak beterbangan mengelilingi kami, so seperti melihat lampu kelap-kelip yang digantung di pohon (ataukah itu memang lampu kelap-kelip yang di gantung dipohon yah???). Ditambah perjalanan keliling yang cukup lama plus kebelet pipis :( . Setelah ngomel sana-sini karena ketidakpuasan tour ini, akhirnya kapal berlabuh. Begitu kapal berlabuh yang kami cari adalah toilet. Ternyata sulit menemukan toilet disini dan setelah meminta kepada pemilik warung akhirnya sang pemilik warung mengijinkan untuk memakai toiletnya. Dia memanggil seseorang untuk mengantarkan kami. Satu persatu kami memakai toilet tersebut diantar oleh mbak-mas yang sangat cantik itu. Dan ternyata oh ternyata mbak-mas ini menyukai Om, karena tutur katanya beda banget ke Om dan tatapannya itu looohh…hahahaaa…. Akhirnya Om punya seorang fans, congratulation for Om 55555+++.

Setelah mengarungi sungai kami menyusuri pesisir sungai Amphawa ini dan bunga akhirnya membeli kembang api. Malam itu di depan penginapan kami membuat kegaduhan bermain kembang api. Setelah kembang api habis kami pun segera menuju ke kamar masing-masing. Pagi itu ooppss agak siang sedikit :D kami berdua dibangunkan oleh gedoran pintu Om yang ribut menyuruh mandi. Begitu keluar kamar, dengan sedikit bangga serta ejekan dia bilang kalau dia dan Di sudah mandi dan siap berangkat. Setelah berpamitan dengan khun yang punya rumah kami meninggalkan Amphawa dan menuju ke jalan raya mencari van menuju ke damnern saduak. Van menuju ke damnern saduak ini harganya 20 baht dan ternyata van tidak langsung menuju ke damnern saduak tapi menurunkan kami di sebuah tourist tour. Damn***, we don’t need tour guide for our journey.

Disana guide melakukan penawaran yang akhirnya kami tolak karena setahu saya (karena yang baca petunjuk waktu itu cuma saya) harga menuju ke damnern saduak tidak semahal itu, lagipula kalo ikut mereka ada batasan waktu. Akhirnya kami sepakat untuk berjalan kaki menuju ke damnern saduak. Tetap nekat walau para tour guide bilang cukup jauh menuju kesana. Sangat berharap disepanjang perjalanan ada truk or mobil sejenis yang bisa ditumpangi, tapi malangnya tidak satupun yang mau berhenti. Ternyata benar kata tour guide tersebut, cukup jauh jalan kaki menuju ke damnern saduak, mungkin sekitar 1 km lebih perjalanan jalan kaki yang kami lakukan. Kalo kami bertiga mungkin sudah cukup biasa dengan medan seperti ini, yang agak kesulitan sepertinya adalah bunga untuk dapat berjalan beriringan. Saya sudah cukup lama mengenal kedua laki-laki ini dan bisa mengikuti pergerakan kaki mereka ditambah kami sudah berhasil menyelaraskan kecepatan berjalan but tidak halnya dengan bunga. So, untuk kali ini bunga berusaha keras untuk berjalan mengiringi kami. Lucu juga melihatnya berusaha setengah berlari mengikuti cara kami berjalan 555++. So, sorry yah dek…but this will be unforgettable moment for you ;) .

Setelah perjalanan itu, akhirnya kami sampai di damnern saduak floating market (finally). Dan mau masuk melihat tempat makan halal, so sepakat ntar makan disana. Masuk ke dalam Damnern Saduak floating market. Floating market ini lebih kecil dari Amphawa (mirip kali) namun lebih ramai. Kami menyewa kapal untuk berkeliling market, setelah nego didapat harga 100 baht/orang. Setelah puas berkeliling kami pun keluar dari damnern saduak ini dan makan siang (sore lebih tepatnya) di tempat khun halal.

Sempat bertanya dengan khun halal tersebut yang kebetulan mengerti bahasa melayu, ternyata ada van langsung menuju ke bangkok. So, akhirnya si khun yang mencarikan van untuk kami. Khob pun mak kha na khun, arroy khin khaa.

Sekian perjalanan ini. Mungkin suatu hari nanti kita bisa kembali melakukan perjalanan bersama guys.

Catatan Perjalanan,
8-9 Oktober 2011
 
PS:
Miss you all my big bro.
 
Bunga: perjalananmu masih panjang disana, enjoy ur journey na kha ;)
 

Tags: , , ,

Sebulan Sudah…

Sebulan sudah setelah benar-benar kembali ke tanah air. Ada perasaan senang dan juga sedih.

Adaptasi, mungkin itu kata yang tepat untuk semua hal yang kulakukan untuk saat ini. Kembali ke kota ini, kota yang telah membesarkanku, kota kelahiranku. Tapi berasa berbeda…

Tidak jauh seperti di Thailand, kembali kesini aku memilih untuk tinggal sendiri tidak bersama kedua orang tua. Berbagai hal yang membuatku untuk memilih tinggal terpisah seperti ini, selain karena Mess (tempat tinggal sekarang red.) lebih dekat aksesnya menuju ke kampus bukit dimana dalam seminggu 4 harinya aku bekerja disini, juga karena berada dipusat kota dan sebenernya untuk menghindari “pertanyaan” yang males sekali dijawab.

Sebulan setelah kepulangan, suasananya tidak seperti dulu. Beberapa teman yang dulu sangat dekat denganku sekarang terasa sangat jauh. Beberapa kali ajakan untuk kumpul tanpa ada tanggapan. Yah bisa dimaklumi, mungkin mereka sibuk sekali dengan urusan masing-masing. Tapi berasa sedih, bagaimana keakraban kami hanya sampai sebatas ini, jarak yang jauh ini telah benar-benar memisahkan rasa pertemanan dan persaudaraan. Merasa sendiri di kota sendiri :( , padahal di negara orang selalu saja ada yang berada disampingku. Ini juga yang membuat adaptasi ini terasa sedikit sulit.

Kolega saat ini adalah orang-orang yang dulu sangat aku segani. Orang-orang yang dulu memberikanku berbagai macam ilmu. Sampai saat ini masih ada rasa segan kepada mereka. Sehingga masih seperti ada pembatas dengan mereka walau seharusnya aku setara seperti mereka namun diriku sendiri seperti masih memberikan batasan itu. Masih sangat sulit bagiku untuk benar-benar membaur dan masuk dalam komunitas yang usia orang-orang didalamnya jauh diatasku. Mungkin someday, aku bisa benar-benar menerima mereka “as a friend” not as a parent.

Beberapa teman seprofesi yang seangkatan saat ini masih berada diluar kota ini, yah salahku juga keluar seorang diri mendahului mereka. Sekarang disaat mereka sedang menjalani hal yang sama seperti diriku dulu aku sudah kembali ke kota ini.

Teman curhat; selama dua tahun ini teman curhat merupakan teman yang berada dekat denganku, share anything I do. Now, they all far from me, miss them :( ; my room mate, my best friend. now only hear they voice from far distance.

Saat ini aku seperti mencari komunitas baru, namun tak banyak juga yang bisa kuikuti. Salah satu pelarian adaptasi ini adalah pekerjaan. pekerjaanku sendiri sebenarnya tidak menuntut banyak. Aku diberi kebebasan untuk berkata “tidak mau”, menolak mata kuliah yang diajar. Namun, dari semua mata kuliah yang ditawarkan aku berkata “oke”. memang pastinya bebannya akan sangat berat, mengajar merupakan salah satu tugas mulia menurutku, tapi bebannya sangat berat karena seorang pengajar itu punya tanggung jawab langsung kepada Tuhan selain kepada sang anak didiknya. Tidak hanya membuat sang anak didik tahu tentang apa yang diajarkan tapi harus dapat membuat mereka mengerti dan mehami apa yang diajarkan sehingga sang anak didik dapat mengaplikasikan ilmu yang diberikan itu untuk tujuan yang baik dan benar.

Terasa berbeda…

kalau di Thailand, lunch or dinner pasti dengan teman entah siapapun itu, now alone or u’ll not eat at all.

kalau di thailand, selalu ada yang mengajak jalan or meminta untuk diajak jalan, now alone or u’ll not going anywhere.

kalau di Thailand, mo bergaya macam apapun, who care, now trying to wear some style then everyone will say u r freak.

kalau di Thailand, jalan kaki anywhere and everywhere in any soi, now alone walking di di gang-gang kecil then some eyes will looking at u.

kalau di thailand…, now…

kalau di thailand…, now…

Entah kenapa aku jadi membuat perbandingan terus menerus. Apakah karena aku yang terlalu sensitif menanggapi perbedaan ini?

Pengen adaptasi ini segera terlewati dan aku bisa menikmati… enjoy dengan semua hal yang ada disini seperti dulu lagi, sebelum dua tahun yang baru terlewati ini.

 
3 Comments

Posted by on February 18, 2012 in My diary

 

My Sketch

Semalem ketika bongkar-bongkar arsip lama ga sengaja menemukan map gambarku. Map hitam yang selalu jadi media penyaluran ke”galauan”ku dimasa lalu. Banyak coretan-coretan tanganku yang masih tersimpan rapi (opps, sepertinya tidak bisa dibilang rapi) berada di dalam map tersebut.

Beberapa sketch sempat ku foto dengan kamera BB Storm2 ini, sepertinya tidak semua akan kupublish disini, selain ada beberapa gambar tidak layak dilihat, beberapa tidak berjudul dan beberapa juga kertasnya sudah benar-benar jelek. Let’s share…

24.10.03 carikan dia untukku!

22.12.03 Angin...Cahaya...

11.06.04 Hembusan angin malam

15.10.03 Surat

07.03.05 Never forget the past

19.12.03 Shakespeare in love

Gambar-gambar ini dibuat biasanya hanya ketika sedang ada mood, kebanyakan dihasilkan dari kamar dengan cat biru di Inderalaya itu. Jadi teringat, di Thailand rasanya aku sempat membuat beberapa sketch juga, beberapa tempat yang sering aku gunakan untuk membuat sketch selama di Thailand:

  • Balkon N301

Beberapa kali kepergok sama orang yang lewat dan mereka terkejut, karena aku duduk di balkon seakan punya keinginan untuk bunuh diri. Duduk di pagar balkon yang riskan untuk jatuh, tapi dari sana aku bisa murni melihat langit (ritual yang kusuka).

  • Pondokan kayu di belakang SOM

Tidak banyak yang tahu tentang tempat ini, but karena itulah aku suka banget dengan nih tempat. Dengan ilalang dan pohon-pohon yang jarang di sekitar pondokan ditambah dengan jalan setapak tanah.

  • Lantai 2 pojokan Library tanpa AC

Dari sini yang terlihat hanya view pohon bambu, tapi view ini bikin aku betah entah kenapa ditambah dengan suasana yang tidak terlalu dingin.

Now, sepertinya aku harus mencari spot-spot baru lagi. Entah dimana???

 
8 Comments

Posted by on February 6, 2012 in My diary

 

Tags: , ,

2011 in review

Many thing happen in 2011, my stories life in a whole of this year that will never forget. For every people that come and leave in my life this year, thanks so much too much very much. Well, actually many people come and leave in this 2011 but just some of them have some “click” memories that will make me remember in whole of my life.

Fean Sarian

Meeting in bus when I was the coordinator of the trip; PERMITHA AIT trip in the end of 2010. The first time we meet, I call you “Bapak” then you angry with me and want me just call your name without any word before that coz our age just different about 3 years. As a doctoral student from Groningen , Netherland whose taking 3 month lab experience in NSTDA, AIT neighbor institute. Always ask me where the place for visit like I am the guide tour. On the first new year eve of 2011 we going together with 4 other, taking around Bangkok. Go to China Town, Rama Bridge, Kaosan Road, and the last place at that night: Central World. Then, of course I remember when you become  my photographer, taking many pose of me using yukata. You’ll come back to Indonesia, after three months in Thailand in early of February. Thanks so much for any support and “curhat” session for me “Bapak Fean”.

Kittipong “Onnz” Hi-ri-o-tappa

The only Thai guy whos close with me. The first time, I’m meet him in Hokkaido, we are be in the same laboratory as the internship student from different institute. I always be his translator because not many people in Japan can understand his dialect. He tell many stories to me even with others not so. He always call me in the “not right” time and sometimes said “Please call me” even I never call him. After I’m in Thailand, he still connect with me, we often meet coz he wanted that. Then, He and me become gossip for Indonesian community in AIT coz I introduce him to Indonesian community. My Indonesian friends until now think we are more than friend (r that true Onnz?? hahaa…just both of us know that ;) ). Last time we meet for dinner in February 2011.

James Frank S.

Indonesian student in AIT that very close with me, where ever you go almost me there. He like my brother for me. He always counsel me with any good words. Even we have different religion but he always warn me for prayer time. Last meeting with you in May 2011, when you are graduated. I miss you so much Ko James.

Rahardi Yonioristanto

He is  my teacher actually, photographer teacher. As alpharian, sometimes we hunting photo together. Not many words that he gives but many adventure where we going together. Our last meet when he treat me durian. We are take dinner, durian dinner in Thaladthai; traditional market in Rangsit. Sometimes, can we hunting together again Di?

WongKito Community

This is a regional community for blogger. As my home town in Palembang, I follow this community. I start to follow this community in the middle of 2011. The first time, I think this just passive community but many things I can found in this community. With this community I can get free ticket for opening SEA GAMES, this time when I first meet with this community. Then, from this community also, I get someone whom I never meet give “code”   but lil bit weird for me coz he almost never say anything to me but give that code in community milist. But for all, thanks so much I have new community in my loneliness.

Ratna Dewi

Maybe, she’s the only woman for this post. First time meet her in AIT when we wanna backpack to Cambodia and Vietnam in May 2011. Devi’s friend, have same graduated institution like my 10 seniors from Ministry of Public Works. Five days go together, with Devi and Ricky make us become a good friend now. That I always remember, when she feel so guilty coz give dismiss direction that make me (and Devi) got accident in Vietnam.

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2012 in Info, My diary, Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Watching SEA Games 2011 Opening Ceremony

Yeay… Got free ticket from WongKito.net; Palembang Blogger Community. This is my second time meeting with this community, and thanks to them whom give me chance to go with them to see the opening ceremony of SEA Games 2011. Actually this is not “free” ticket, we have job to update the news about the happening in this ceremony to media social like Facebook, Twitter and of course our blog.

my ticket

The opening ceremony of the 26th SEA Games 2011 held in Palembang, South Sumatera at 11 November 2011. As the native and fortunately I’ve been in Palembang for this month of course wanna seeing the opening ceremony live. Since evening, me and 19th others (all from wongkito blogger community) been Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang. We got blue seat  with others media publication from other countries, but too bad when we been there, my GSM don’t get signal even the WIFI, so I can’t making the update live about the happening.

the stage

giant screen on the stage

Before the show begin, Nirina and Indra take there time become presenters. Some show like opening dancing and singing; mixing the traditional and modern being held. Nirina and Indra said for this ceremony, event organizer using modern technology like spider cam; this the first time for Indonesia even using this tool. Spider cam is the camera that can flying around the object. Then the using of electric canvas for get visual effect in field, look like giant projector reflect to the field, well this is the first time using in Southeast Asia, WONDERFUL!

Colossal Drama Performance

At 7 pm, the show begin. Start with the coming of President of Indonesia; Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Oh yeah, the presenters changing become Tantowi Yahya and Tia Diran, serious then Nirina and Indra. Colossal drama of the Kingdom of Sriwijaya held that night with more less 3000 dancer, spectacular drama with the good lighting and performance. Then three diva’s from three countries; Agnes Monica (Indonesia), Jacklyn Victor (Malaysia) and KC Conception (Philippines) collaboration singing the official song SEA Games; We Will Shine. Except that, there some others Indonesian singer perform, like Judika, Umay, Elfa’s singers, and many more.

11 countries flags

Agnes Monica; Indonesian singer performance

In the middle of event, unfortunately rain drops, but the anticipation from the committee about this thing is good enough. In every seat, the committee give goody bag, which in every of that they give umbrella, rain coat, flash light, and color light. So if the rain comes, we can use that things. The rain fall in the main showing of the event, when all the athlete from each 11 countries in Southeast Asia perform. But even rain fall, the show must go on.

the torch

And others main showing is the lighting of the torch. In this event; Susi Susanti, ex-athlete from badminton venue lighting the torch by flying. Wow, amazing even have some trouble coz the fire in the torch off for a moment. The end is the showing of fireworks, spectacular fireworks, even I ever seen the best in Japan but this fireworks showing still feel amazing for me.

firework

Finally, even there’s some problems happen in this show, but I just wanna say GOOD PERFORMACE PALEMBANG!! GOOD PERFORMANCE INDONESIA!!! Proud to be the part of Indonesia…

JAYALAH SELALU NEGERIKU…

MARI DUKUNG INDONESIA….

My day, 11-11-11
 
PS:
# Thanks to WongKito blogger community, nice knowing all of you guys.
# My pict in this even can be seen at this link.
 
6 Comments

Posted by on November 12, 2011 in Info, My diary

 

Tags: , , , , ,

Kangen Hokkaido (3)

First Assignment

Koen (公園) adalah taman dalam bahasa Jepang. Di Jepang koen atau park merupakan areal yang banyak ditemui, park sendiri memiliki banyak fungsi, sebagai tempat rekreasi, festival dan yang paling utama sebagai sarana penghijau kota yang penuh polusi. Jepang sangat memperhatikan masalah areal penghijau ini, that I like the most. Kalo inget tentang koen pasti ingat pertama kali di kasih assignment oleh Sensei ketika datang untuk Internship sekitar setahun yang lalu.

Me: “Sensei, what we must do in here?”
Sensei: “Just now, nothing.. Enjoy Hokkaido…”
Me: *Melongo *Bingung
Sensei: “There’s festival in Odori Park, near from here.. you can go there..”
Sensei: “eehhmm..maybe that’s for your assignment” *laughing
Me: “hah???” “eeee…ok, thanks Sensei”
Me: *lompat-lompat girang (dalam hati :) )
 

Yah, first assignment di Hokkaido University ini adalah melihat dance festival di Odori Koen or Odori Park. Senang banget ketika itu, berarti melupakan soal membuat proposal thesis. Besoknya, karena pulang dari lab terlalu sore, kami (saya dan 3 orang teman lainnya) langsung menuju TKP dan menonton festival tari seharian disana. Festival tari ini diadakan di jalan, jadi tiap group dari beberapa daerah di Jepang menampilkan tarian mereka dan saya sempat merekam beberapa tarian tersebut.

Japan Student Dance

Itulah pertama kalinya saya menjelajahi Koen yang banyak sekali di Jepang ini. Taman itu bernama Odori Koen 大通公園 (Odori Park). Taman ini merupakan central dari Sapporo city dan menjadi icon kebanggan bagi kota tersebut. Titik nol kota dan penamaan nama-nama jalan yang berdasarkan mata angin diawali dari sini, menjadi pembagi kota antara utara dan selatan, sehingga kalo tersesat pasti selalu mencari patokan si Odori Koen ini. Berada pada satu jalan dan 12 blok sehingga untuk permulaan nama jalan untuk park ini menjadi berbeda dengan nama jalan yang lain yang berdasarkan mata angin.

Letaknya yang berada di central kota membuat taman ini benar-benar dijadikan aset utama untuk hampir semua kegiatan di Sapporo. Hampir semua festival besar diadakan disini dan disini juga terdapat Sapporo TV Tower, dimana ketika kita berada di atas menara tersebut kita bisa melihat keadaan kota Sapporo. Setiap minggu pasti ada festival yang diadakan disini terutama di malam hari, hampir tiap weekend malam selama disini saya selalu mendapat undangan untuk ber-party bersama teman-teman sesama anggota internship. Oh ya, satu hal party dikala weekend sepertinya memang sudah keharusan dan kebiasaan bagi masyarakat Jepang, sebagai pelampiasan setelah memeras otak dan keringat dikala workday. Jadi tidaklah mengherankan kalo di kala weekend semua orang pada berkumpul dan berpesta, dan tidaklah juga mengherankan melihat banyak yang tidur dijalan atau di taman ini karena sudah terlalu mabuk ,tidak kuat lagi untuk berdiri dan menemukan jalan pulang.

Di setiap blok (chome), dari ke 12 bloknya Odori park ini, selalu ada landmark yang bisa dilihat, ini yang membuat saya tidak pernah bosan untuk datang kemari, selain taman ini juga merupakan tempat meeting point untuk bertemu teman-teman yang lain.

Di block yang pertama (Nishi 1 Chome) memiliki landmark utama dari taman ini, yaitu Sapporo TV tower. Di TV tower ini kita bisa naik ke observation deck dan melihat Odori park ini secara keseluruhan. Kata teman-teman paling indah dilihat ketika winter dimana salju menutupi semua areal dan menjadi putih, unlucky, saya berada disana dikala summer, but pemandangan yang didapat ketika berada di observation deck ini tak kalah indah dibanding winter. TV tower ini terlihat biasa saja ketika siang hari but ketika malam hari dia menjulang indah dengan lampu yang terus berganti tiap beberapa menit sekali.

Di beberapa Block yang lain terdapat beberapa statue-statue unik sebagai penghias taman atau sebagi statue sebuah peringatan tentang jasa seseorang. Satu lagi, festival salju terbesar di Japan konon katanya selalu diadakan disini, mungkin karena Hokkaido yang berada di utara ini merupakan daerah dengan winter terlama kali yah, masih kata teman-teman yang tinggal di Sapporo ini, jika musim salju maka suhu bisa minus 20 derajat celcius dan salju bisa menumpuk sampai satu meter lebih. Wow, sungguh excited mengingat saya belum pernah sama sekali melihat salju, but unlucky, I came here on the summer :( .

 

Tags: , , , ,

Hal-hal biasa namun tak biasa yang ditemui di Thailand

Well…

Ini hanya beberapa hal sepele mulai dari kebiasaan, style dan adat istiadat yang saya temui selama saya berada di Thailand.

1. Anak sekolah dasar (Prathom = primary school)

Selain berseragam, tas dan sepatu yang sama, potongan rambut mereka pun harus sama.

2. Cowok harus cantik

Jangan heran kalo lihat cowok pake bedak include alas bedaknya walau berbadan kekar di Thailand karena penampilan adalah unsur nomor satu :D .
 

3. Mengheningkan cipta sebelum film diputar di cinema

Sebelum film diputar di cinema biasanya para penonton disuruh berdiri sambil mendengarkan lagu untuk menghormati King of Thailand. Nih lagunya…

4. Ronald McD ala Thai

Hanya di Thailand dapat dilihat Ronald McD tidak menyilahkan masuk seperti biasa tetapi ala Thai.

5. Pakaian seragam undergraduate terseksi di dunia

Sebenarnya pakaian seragam undergraduate di Thailand itu hanya mewajibkan untuk memakai baju putih dan bawahan hitam. Namun, modelnya dapat divariasikan sendiri sehingga banyak yang memodifikasinya dan yang paling nge-trend adalah kemeja ketat dan rok mini dengan belahan.

6. Duduk di pinggir kiri atau kanan meja yang bayar makanan

Kalo ada acara makan di restaurant, yang empu acara atau yang bayar bakal duduk di kursi sendiri di pojok meja dan ini sudah jadi custom di Thailand. 
Pernah lihat di sebuah restaurant di daerah Rangsit, ada cowok-cowok kumpul makan-makan dan sepertinya bayar sendiri-sendiri karena kursi yang di bagian pojok kosong padahal mereka duduk berhimpitan. O.o
 

7. Urunan bayar makanan di depan pelayan/kasir

Thai people sering sekali makan-makan di luar bersama-sama. Setelah selesai makan dan bill diberikan biasanya pembagian pembayaran langsung dilakukan di depan pelayan dan masing-masing membayar kepada pelayan, tidak seperti di Indonesia yang biasanya salah seorang membayar terlebih dahulu baru setelah pelayan pergi dilakukan pembagian dan diserahkan kepada yang membayar.
 

 8. Sang cowok hampir selalu membawakan tas cewek-nya

Ini hal romantic yang saya temui di Thailand :) . Sering kali saya lihat di Bus, Subway terutama di Sky Train, sang cowok memilih untuk berdiri dan menenteng tas sang cewek (si tas girly banget loh biasanya) dan yang cewek duduk tanpa memegang apapun.

9. Mahar gede

Semakin tinggi tingkatan sekolah sang perempuan maka apabila seseorang ingin menikahinya, pihak keluarga akan meminta uang kepada sang lelaki dengan jumlah yang besar karena kedudukan keluarga di nilai dari berapa yang diminta oleh keluarga sang perempuan. Tidak mengherankan apabila banyak orang Thai yang menikah di usia yang lanjut dan memilih untuk ‘kumpul kebo’ dahulu sebelum uang untuk ‘mahar’ tersebut terkumpul dan menikah.
Ada kejadian, kebetulan salah seorang teman laki-laki saya yang orang Indonesia ingin menikahi pacarnya yang adalah orang Thailand. Pihak keluarga sang perempuan meminta ‘mahar’ sebesar 100 juta baht dan tidak ingin ada negosiasi karena mahar tersebut adalah prestise bagi keluarga mereka. Akhirnya setelah nego yang sangat-sangat panjang mereka menemukan jalan keluar untuk memberikan pinjaman kepada teman laki-laki saya tersebut agar dapat menikahi pacarnya itu.
 

10. Cinta tidak mengenal gender

Kalo soal yang satu ini sepertinya sudah jadi hal umum yah disini. Kata-kata yang saya kutip dari seorang teman “yang penting itu kasih sayang”.

11. Thai people tidak suka menawar

Saya sendiri kapok kalo mengajak Thai people untuk pergi belanja, awal-awal tinggal di Thailand meminta mereka untuk menemani membeli sesuatu dan berharap mereka lebih bisa untuk melakukan penawaran. Namun begitu saya meminta untuk menawar mereka hanya menawar sekedarnya tidak seperti kita yang selalu mati-matian meminta harga. Alasan mereka simple; “tidak ingin dimarahi yang menjual”. Akhirnya untuk keperluan belanja saya lebih memilih untuk terjun sendiri.
 

12. Harga masuk tempat wisata untuk local dan foreigner berbeda

Kalo masuk ke beberapa tempat wisata biasanya tuh ada tulisan dalam bahasa latin dan tulisan Thai. Foreigners biasanya hanya dapat membaca tulisan latin sehingga tidak mengetahui apa makna tulisan tersebut. Di beberapa banyak tempat wisata harga untuk foreigner bisa 10x lipat lebih tinggi dari penduduk lokal. Contohnya: Biaya masuk areal kawasan national park Khao Yai; untuk foreigners dikenakan biaya masuk 400 baht tetapi penduduk lokal hanya 40 baht. Biaya masuk Grand Palace; untuk foreigners dikenakan biaya 350 baht tetapi penduduk lokal free untuk masuk kesana. 
Tips: orang Thai punya tipikal face mirip Indonesia, kalo mo ambil resiko cobalah mengaku sebagai ‘Khun Thai’.
 

13. Bagi para manula; ongkos angkutan umum murah tapi ticketnya banyak

Ini yang masih jadi pertanyaan yang belum sempat saya tanyakan ke ‘khun Thai’. Sering saya lihat terutama di bus, para manula memberikan ongkos yang lebih sedikit dibandingkan biasa tetapi ticket yang diberikan sangat panjang. One day, I’ll asked about that to Thai friends.

Sebenernya masih banyak hal-hal sepele lainnya, maybe next time I’ll continue this post :) .

 
5 Comments

Posted by on September 28, 2011 in Info, Once Upon a Time Wanna be Mahabandit

 

Tags: ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.